PAKAIAN MELAYU RIAU
MULOK
SEJARAH
"Kepulauan Riau merupakan sebuah provinsi yang baru hasil peme karan daerah provinsi
Riau yang terbentuk sejak 24 September
tahun 2002 yang lalu."
Daerah Kepulauan Riau memiliki berbagai macam adat dan kebudaya hampir sama dengan Riau yang merupakan salah satu provinsi di pulau Sumatera. Menurut Undang-Undang Nomor 25 tahun 2002 Provinsi Kepu lauan Riau adalah sebuah provinsi yang baru hasil pemekaran daerah provinsi Riau, terbentuk sejak 24 September tahun 2002 menjadi provinsi yang ke-32 di Indo nesia. Namun meski masih tergolong provinsi yang baru, unsur budaya yang ada pada provinsi Kepulauan Riau ini cukup kental yaitu adat suku Melayu. Kebudayannya sendiri tidak lepas dari sejarah panjang saat masa perdagangan dunia. Letak daerah provinsi Kepulau an Riau yang sangat strategis dan merupakan jalur perdagangan membuat pengaruh budaya Melayu sebagai penduduk lokal dengan para pendatang dari budaya Arab, China dan juga Eropa yang sudah berakulturasi menjadi satu kesatuan.
Berbicara tentang adat dan budaya pada suatu daerah tentunya juga tidak akan terlepas dari pakaian adat daerah tersebut terutama adat budaya Melayu. Pakaian merupakan salah satu hal yang sangat diperhatikan oleh masyarakat Melayu, karena pakaian adalah simbol budaya yang menan dai kekhasan etika dan moral budaya Melayu. Masyarakat Melayu Kepulauan Riau memiliki pengaruh besar pada bu daya pribumi dalam kehidupan bermasyarakat, terutama di pedesaan / pedalaman. Kebiasaan yang sangat dipegang oleh masyarakat Melayu ada lah memegang nilai-nilai adat Melayu dan norma agama Islam. Asimilasi antara nor ma Islam dan Melayu inilah yang membentuk budaya baru, terlihat dari cara mas yarakat Melayu Kepulauan Riau berpakaian. Selain itu, pakaian dan aksesoris yang digunakan tidak hanya seba tas memenuhi perlengkapan pakaian atau mempercantik penampilan, tetapi juga men gandung semangat tertentu. Semangat yang terkandung dalam pakaian Melayu ada lah nilai rasa syukur dan ke jujuran dalam kehidupan bermasyarakat yang menjadi filosofi dari pakaian Melayu tersebut.
Pakaian tidak hanya digunakan untuk penutup tubuh, namun juga bisa sebagai penanda identitas suatu budaya masyarakat dalam sebuah daerah, termasuk pakaian adat suku Melayu Kepulauan Riau. Menurut Effendi (2004: 2) unsur pakaian adat Melayu di daerah Riau dalam kehidupan nyata memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan pesan-pesan nilai budaya yang terkandung didalam- nya. Pemahaman tentang nilai budaya tersebut disampaikan melalui berbagai simbol yang terdapat pada berbagai macam bentuk pakaian adat suku Melayu tersebut, yang pada saat ini secara hipotesis sudah mulai dilupakan orang, bahkan sudah tidak di jumpai lagi. Macam-macam dari pakaian adat suku Melayu. Kepulauan Riau dilihat dari fungsinya terdiri dari pakaain harian, pakaian resmi, pakaian upacara adat, pakaian upacara perkawinan, dan pakain upacara keagaaman.
PAKAIAN HARIAN
Menurut Jamil pakaian harian adalah pakaian yang sering digunakan saat ke giatan keseharian baik anak anak, dewasa (akil baliq), mau pun orang tua. Pakaian harian digunakan untuk semua ke giatan harian orang Melayu, seperti saat dirumah, bekerja, bermain, melaut, maupun kegiatan yang lainnya. Jenis pakaian harian dilihat dari penggunanya di bagi menjadi 3 jenis, yaitu pakaian anak, pakaian dewasa (akil balik), dan pakaian orang tua atau setengah baya.
Pakaian Anak Laki-laki
Pakaian harian untuk anak anak yang masih kecil biasanya dikenal dengan Baju Monyet, menurut Effendi Baju Monyet ada lah sejenis baju yang menyatu dengan celananya, di depannya terdapat saku untuk menyimpan makanan atau benda lainnya. Namun sayang nya baju monyet ini sudah sangat jarang di temui pada era digital saat ini dikarenakan perkembangan zaman yang semakin modern. Adapun baju anak yang telah beranjak besar yaitu Baju Kurung Teluk Belanga atau Ce kak Musang. Untuk celananya memakai celana setengah atau dibawah lutut, sedangkan penutup kepala memakai kopiah atau tutup kepala dari kain segi empat yang berfungsi sebagai pelindung kepala untuk menghindari binatang yang berbisa. Sedangkan diping gangnya menggunakan kain samping dari bahan pelekat. seperti sarung. Namun ketika anak-anak bermain kain samping ini tidak dipakai hanya cukup di ikat di pinggang atau disandangkan di bahu saja. Kain sarung ini dipakai saat belajar mengaji Alqur'an, sholat lima waktu, dan lain nya. Biasanya kain ini diman faatkan sebagai tiang gawang saat anak-anak bermain
Pakaian Anak Perempuan
Pakain untuk anak-anak perem puan biasanya mengguakan baju Ku rung Teluk Belanga satu stel baju den gan bawahan rok satu warna dan juga menggunakan jilbab sebagai penutup kepala motif bunga maupun polos. Pa kaian anak perempuan ini biasa digu nakan pada kegiatan sehari-hari seperti saat bermain, mengaji, menuntut ilmu. dan juga bisa diguanakan pada acara formal. Anak Melayu perempuan sejak kecil sudah dikenalkan dengan adat is tiadat Melayu. Hal yang selalu diajar kan orang tua pada anak-anak sebagai orang Melayu mempunyai 3 identitas yaitu:
a. Beradat istiadat Melayu
b. Beragama Islami
c. Berbahasa Melayu
Tiga identitas ini mer upakan ciri khas yang men dasari marwah sebagai anak perempuan Melayu sejak kecil hingga dewasa. Anak perempuan dididik dan di ajarkan adab sopan santun terhadap orang tua, guru, para kerabatnya, dan taat beragama, hingga dalam. berpakain pun diatur secara adat dan norma agama.
Pakaian Laki-Laki Dewasa (akil balik)
Pakain harian untuk anak laki-laki dewasa adalah Baju Ku rung Cekak Musang dan Baju Kurung Teluk Belanga, yang menjadi pembeda dari dua jenis baju kurung ini adalah pada bagian leher atau kerahnya. Anak laki-laki yang sering membantu orang tua nya dalam kegiatan sehari-hari biasanya dilengkapi dengan kain samping berupa sarung pelekat dan kopiah (songkok) atau ikat kepala yang dibuat dari kain segi empat. Jika mereka bekerja di sawah maupun di laut biasanya memakai celana lima jari dari lutut, kain samping dipinggang dan kopiah atau ikat kepala tetap dikenakan. Fungsi kain samping sendiri digunakan untuk sho lat serta saat bertamu ke ru mah orang tua dan kerabatn ya.
Anak laki-laki dewasa biasa nya menghabiskan waktu nya dengan belajar ilmu. agama di sore hari setelah membantu orang tua nya, dan malam hari nya mereka belajar ilmu silat untuk pertahanan diri. Ilmu silat yang dipe lajari seperti silat pangian, silat pedang, silat harimau, silat kontau, silat tumbok dan sebagainya. Disamping itu mereka juga berkesenian pada malam harinya, mereka biasanya bermain makyong, mendu, bangsawan serta berzapin dan bermain gambus. Pada zaman kerajaan Siak merupakan kewajiban bagi anak-anak yang mulai dewasa belajar tarian zapin, karena tari ini merupakan pergaulan antar sesama anak muda, jika ada dari mereka yang tidak tahu menari zapin maka akan tersisihkan dari pergaulan.
Pakaian Orang Tua dan Setengah Baya
Pakain adat harian orang tua, baik laki-laki maupun perempuan hampir sama dengan laki-laki dan perem- puan dewasa hanya berbeda dalam menentukan corak atau warna serta bahannya. Perempuan setengah baya biasanya menggunakan baju kurung teluk belanga atau disebut juga baju kurung tulang belut, karena baju ini lebih longgar dan nyaman saat di gunakan saat aktifitas sehari-hari. Ada juga baju kebaya laboh yang longgar dan panjangnya hingga kebawah lutut, kedua baju ini meng gunakan jahitan pesak dan kekek pada samping baju di bawah lengan agar lebih nya man saat bergerak. Ada pun baju kebaya pendek yang biasa di pakai ke lading, ke sawah, mapun dirumah. Perempuan setengah baya juga memakai pakain seperti yang sudah disebut diatas, hanya bentuknya agak sempit dan biasanya baju dan kain mer upakan satu stelan. Jadi moift dan warna bahanya sama.
Sebagai penutup kepala berupa selendang berbentuk segi empat yang di dibuat menjadi segi tiga, hingga menyerupai jilbab. Untuk keluar rumah perempuan tua selain menggunakan selendang mereka juga memakai tudung lingkup dari kain pelekat sebagai penutup kepala sama seperti perempuan remaja. Pakaian orang tua. laki-laki dan setengah baya biasanay memakai baju kurung teluk belanga dan baju kurung cekak musang yang terbuat dari kain katun atau kain lejo. Baju ini sangat sesuai di pakai untuk keseharian orang tua maupun laki-la ki setengah baya karena bajunya lebih santai dan agak longgar.
Baju Kurung Teluk Belanga (Perempuan)
Bentuk Baju Kurung Teluk Belanga perempuan memiliki ukuran yang agak lapang dan longgar, lehernya bulat dan di belah +5cm. Cara penggunaan nya di sempurnakan dengan memakai kain sarung batik, kain lejo(songket), atau kain pelekat. Baju ini biasa dipakai oleh perempuan-perempuan tua, setengah baya dan anak. gadis. Pemakain baju kurung Teluk Belanga ini biasanya dilengkapi dengan selendang yang tipis atau kain tudung lingkup saat berpergian keluar rumah.
Bahan dan warna dari Baju Kurung Teluk Belanga tergan tung pada pemakainya, jika orang tua terbuat dari bahan katun yang bermotif bungabun gan atau polos dengan warna yang tidak mencolok. Sedang kan perempuan setengah baya atau anak gadis bentuk baju kurungnya dibuat satu stelan, yaitu bahan baju dan kain sam warna dan motifnya, di ketiak dijahit agak longgar yang di se but kekek dan pesak, sedang kan selendang dipakai untuk menutup kepala.
Kebaya Laboh (Perempuan)
Bentuk Kebaya Laboh pan jang nya tiga jari dari bawah lutut atau sampai batas betis, kancingn ya sebanyak empat atau lima buah, biasanya memakai kancing ketip yaitu kancing kecil yang telindung oleh lidah baju. Bentuk baju Kebaya Laboh ini tidak terlalu longgar dan tidak terlalu sempit, panjang lengan baju kira-kira dua jari dari pergelangan tangan, sehingga gelang yang dipakai masih bisa terlihat. Lebar baju Kebaya Laboh sekitar tiga jari dari permukaan lengan, untuk bahan baju disesuaikan kemampuan dan kebutuhan pemakainya.
Sebagai penyempurnaan Kebaya Laboh ini memakai sarung batik, kain pelekat atau kain lejo yang di sesuaikan dengan warna atau motif baju supaya terlihat lebih menar ik dan indah. Selendang atau kain tudung lingkup juga di gunakan sebagai pelengkap saat keluar rumah.
Kebaya Pendek (Perempuan)
Baju Kebaya Pendek tidak jauh berbeda dengan Kebaya Laboh, hanya panjangnya sebatas pinggul dan di ujung baju ada yang mendatar dan agak miring diba gian depan. Baju Kebaya Pendek juga tidak terlalu sempit dan tidak terlalu longgar, dan memakai kain kain pelekat juga. Kebaya Pendek biasa dipakai untuk kegiatan sehari-hari, karena bentuknya lebih praktis. Kebaya pendek juga digunakan saat bekerja di ladang atau di sawah, dengan menggunakan kain sarung sebagai pasangannya, cara penggunaan kain nya agak keatas sedikit lebih kurang lima jari di bawah lutut, sehingga lebih leluasa saat melangkah. Sistem penggunaan kain seperti ini biasa di sebut "Menggoyek Memocah Boti".
Pada bagian kepala ditutup dengan selendang, kain sarung, atau belacu. Bahan nya sesuai dengan selera yang memakain ya, tapi jika digunakan saat kegiatan harian bekerja di rumah, di ladang dan di laut, biasanya menggukan bahan kain katun. atau kain cita polos.
Baju Kurung Teluk Belanga (Laki-laki)
Bentuk Baju ini lehernya berkerah dan berkancing (kancig tep, kancing emas, atau kancing permata tergan- tung pada tingkat pemakai dan kemampuan). Lengan baju panjang menutup pergelangan tangan, lebar dan agak longgar. Baju Kurung Teluk Belanga biasanya dibuat stelan dengan celana, bahannya terbuat dari katun atau bahan lain yang berwarna polos, dilengkapi dengan dengan kain samping, seperti kain pelekat. Cara pemasangan kain ini juga bervariasi, ada yang agak dibawah lutut, ada yang di atas lutut, dan ada pula yang diserong (kemirin gan pada lutut kaki lebih tinggi dari pada lutut kanan, inilah yang disebut "diponjot").
Sebagai penutup kepa la para lelaki Melayu, untuk penggunaan sehari-hari ha nya memakai kopiah, namun saat bekerja di sawah, di lading, atau di laut memakai ikat kepala. Baju Kurung Teluk Belanga ini akan terlihat lebih serasi dan menarik jika disrtai tutup kepala, membuat kesan yang lebih sopan dan gagah.
Baju Kurung Cekak Musang (Laki-laki)
Bentuk baju ini hampir sama dengan bentuk Baju Kurung Teluk Belanga, hanya saja lehernya berkerah dan tidak berkancing, serta bagian leherba ju berbelah kebawah sepanjang +5 cm, agar lebih mudah di masukan dari atas melalui kepala. Baju ini memiliki satu saku pada bagian atas disebelah kiri dan dua buah saku di bagian bawah. Stelan Baju Kurung Cekak Mu sang ini juga menggunakan celana panjang sampai ke mata kaki, adapun bahan untuk baju dan celananya menggunakan bahan yang sama, yaitu bahan yang tidak panas dan tidak bermotif. Warna yang digunakan pada baju kurung ini di sesuaikan selera si pemakai, baik orang tua maupun lelaki setengah baya. Untuk penutup kepala berupa kopiah berwarna hitam.
Pakaian Upacara Adat
Adat istiadat dari suatu wilayah sesuai perkemban- gannya lambat laun membakukan berbagai aturan, kententuan, tata cara adat, alat dan perlengkapan upacara, serta pakain adat yang diberlakukan di wilayah masing-masing, sehingga menja di ciri khas atau jati diri dari wilayah tersbut. Suku Melayu juga telah membakukan se cara lengkap dari tata cara adat, pakaian adat, hingga lambang dan makna yang terkandung didalamnya.
Pakaian Melayu pada upacara adat adalah pakaian yang dipakai dalam suatu upacara adat yang pada zaman dulu dilaksanakan oleh kerajaan-ker ajaan kawasan Melayu, yang disusun kembali oleh Lembaga Adat Melayu Riau antara lain:
●Upacara penobatan Raja.
●Upacara pelantikan Menteri, orang besar Kerajaan dan Datuk-Datuk.
●Upacara Menjunjung duli.
●Upacara Penyambutan tamu-tamu agung dan tamu-tamu yang dihormati.
●Upacara adat penerimaan anugerah dan persembahan dari rakyat atau dari negeri-negeri sahabat. ●Upacara adat seperti ini dilak sanakan oleh kerajaan (pemerintah) atau Lembaga Adat Melayu Riau se bagai puncak adat di negeri ini. Paka in adat pada upacara adat Melayu ini dapat dibagi kedalam dua kategori, yaitu:
Pakaian Upacara Adat (Perempuan)
Jenis dan bentuk baju yang di pakai dalam upacara adat bagi perempuan tua maupun muda atau setengah baya pada dasarnya sama dengan pakaian harian, seper ti Baju Kurung Teluk Belanga, Baju Laboh, dan Baju Kurung Cekak Musang. Hanya saja berbeda pada bahan kain dan tata perhiasan yang dipakai untuk up acara adat. Perbedaan tata cara berpakaian dalam up acara adat dapat dibedakan sebagai berikut :
●Pakaian Melayu dalam upacara nikah dan perkawinan.
●Pakaian Melayu upacara adat.
●Pakaian Melayu sebagai seorang pengantin, acara langsung, acara akad nikah, acara berandam, berinai dan upacara mandi damai.
●Pakaian alim ulama dan pakaian upacara keagamaan.
Pakaian Upacara Adat (Laki-Laki)
Pakain upacara adat untuk laki-laki muda tidak ada bedanya dengan laki-la- ki tua. Perbedaannya hanya terletak pada letak kepala kain samping dan tinggi ikat kain dari lutut. Pakaian up- acara adat laki-laki adalah Baju Kurung Cekak Musang berwarna hitam dari bahan saten, dengan perlengkapan sebagai berikut :
●Baju satu stelan degan celana panjang.
●Kain samping yang terbuat dari tenunan daerah sendiri
●Tanjal sebagai penutup kepala. Bengkong pengikat pinggang
●Sebilah keris
Kasut capal dari kulit atau sepatu Pada masa dulu seorang Sul tan atau Raja dalam upacara adat memakai pakaian hitam bertabur benang emas satu stel baju, celana dan kain samping berwarna hitam. Kemudian dilengkapi dengan keris pendek dan keris panjang, keris panjang dipegang penjawab setia sultan. Pada penutup kepala Sultan memakai tanjak yang bernama Belah Mumbang, memakai pend ing dan Bengkong, yaitu sejenis ikat pinggang dari emas, berkepala dan dihiasi dengan permata bengkong berwarna kuning (tanpa les).
Para orang besar kerajaan, Datuk-datuk, kaum bangsawan, Penghulu Balai, Penghulu Ista na memakai kain samping yang berwarna, tidak boleh hitam atau kuning. Pakaian acara adat bagi Penghulu, Batin dan Patih, tongkat (wali Penghulu) berpa kaian baju Cekak Musang satu stel dan ikat kainnya di dalam baju yang di sebut baju kurung dagang luar. Semua perserta upacara adat memakai keris yang di sisipkan di pinggang. Perlengkapan lain bagi kaum laki-laki adalah Tanjak sebagai penutup Kepala. Tanjak yang digunakan tergantung tingkat seseorang dalam masyarakat. Tanjak ini terbuat dari kain ba han tenunan atau sutera hitam bertelepuk, ukurannya +75 cm persegi kemudian dilllipat belah ketupat, bentuk tanjak memili ki bermacam jenis antara lain:
●Tanjak Belah Mumbang
●Tanjak Ikat Laksmana Tanjak Elang Menyongsong Angin
●Tanjak Balong Ayam
●Tanjak Tebing Runtuh
●Tanjak Ikat Biasa
Tanjak untuk kaum bangsawan sebagai pejabat adalah tanjak Bengkong ber warna kuning, memakai les sekeliling Bengkong dengan warna hijau lumut. Bengkong berwarna kuning dengan les ungu dipakai oleh Datuk-da tuk sebagai pembesar kera jaan, sedangkan para pejawat kerajaan mengenakan Beng kong berwarna kuning
PAKAIAN UPACARA PERKAWINAN
Bentuk Pakaian Pengantin (Laki-Laki)
Bentuk pakaian pengantin laki-laki Melayu Kepulauan, Melayu Pesisir dan Melayu Daratan tidak berbeda jauh, bentuk bajunya berupa Baju Kurung Cekak Musang atau baju Kurung Teluk Belanga. Bahannya terbuat dari tenunan Siak, In dragiri, Daek maupun Terengganu. Warna yang selalu menjadi pilihan yaitu mer ah, hijau, biru, hitam, dan merah jambu, warna kuning. Pada zaman kerajaan dulu warna kuning adalah warna larangan atau warna kebesaran, hanya boleh dipakai putera putri Mahkota, Raja atau Sultan pakaiannya satu stel baju, celana dan kain samping. Namun dengan berkembangnya zaman sekarang hal tersebut mulai di abaikan. Perlengkapan pakaian yang di gunakan pengantin laki-laki dapat dijelas kan sebagai berikut:
●Baju Kurung Cekak
●Musang satu stel, sama warna antara baju den gan celananya. Bajunya bertabur benang emas dengan motif bunga cengkeh dan tampuk manggis
●Kain samping mo tifnya sama den gan celana dan baju. Kepak kain bermotif siku keluang, pucuk rebungdan lain-lain.
●Kepala memakai Tanjak degan bentuk yang beragam.
●Dileher pengantin dikalungkan rantai panjang berbelit dua se bagai pertanda ikatan Ayah dan Bunda.
●Memakai sebai (selendang) sebelah kiri bahu, berwarna kuning bersulam kelingkan.
●Pending (ikat pinggang) atau Bengkong menggunakan warna kuning dengan les sesuai derajatnya.
●Sepatu runcing atau capal kulit.
●Keris pendek berhulu burung selendit yang disisipkan dipinggang sebelah kiri, keris bersarung dan diikat dengan kain kuning untuk menghindari mala petaka
●Pada ibu jari kelingking memakai cangai yaitu hiasan kuku buatan dari emas atau perak(saat ini lebih sering menggunakan ini inai/henna)
Bentuk Pakaian Pengantin (Perempuan)
Pakaian pengantin perempuan Melayu dalam upacara Adat Perkawinan memliki ben- tuk yang bervariasi sesuai upaca- ra adat yang akan dilaksanakan. Upacara adat tersebut seperti upacara Malam Berinai, Upacara Akad Nikah, Tepuk Tepung Tawar, upacara Bersanding, dan upacara Mandi Damai.
Pakaian pengantin per empuan pada Malam Berinai memakai baju Kebaya Laboh atau baju kurung Teluk Belanga dari bahan tenunan, sutra, saten atau borkat. Untuk hiasan dikepala menggunakan sanggul sesuai kehendak dari Mak Andam sebagai seorang yang ahli merias sekaligus dipercayai sebagai pelindung calon pengan tin dari berbagai gangguan penyakit dan gangguan yang datang secara gaib. Kemu dian ditambah perhiasan. seperti Jurai Panjang, Jurai Pendek, Bunga Goyang dan Bunga Cina serta anting-ant ing.
Pada dada diberi perhiasan Dukuh atau Rantai papan bertingkat sesuai dengan tingkat derajat si pengantin. Taangan diberi Gelang Patah Semat dan Bertingkat. Perge langan kaki kiri dan kanan juga memakai Gelang Kaki Kuntum Cempaka. Proses berinai dilakukan di muka pelaminan dibentangkan tilam dan bantal yang sudah dihiasi.
Pakaian pengantin pada upacara Berandam hampir sama dengan pakaian Berinai, hanya saja bahan baju yang di pakai adalah bahan saten dan kain tenunan. Bagian kepala hanya menggunakan sanggul yang dihiasi dengan bunga Cempaka Kuning atau bunga Melur yang dirangkai indah. Setelah pengantin di Andam diteruskan mandi dengan air tujuh bunga dengan pakaian kain kemban dari bahan kain pelekat.
Pada Upacara Akad Nikah yang disebut Ijab Qabul pengantin memakai Kebaya Laboh Atau Baju Kurung Teluk Belanga, baju dan kain yangn dipakai motif dan warnanya sama. Kepala pengan tin dihiasi dengan perkakas Andam sederhana, dileng kapi dengan ornament dari perak dan emas seperti, ratai papan, kalong, pending di pinggang, gelang tangan, dan gelang kaki serta Sebai atau tampan-tampan di bahu kiri. Setelah itu dilanjutkan upacara Tepuk Tepung Tawar di pelaminan mulai dari pengan tin perempuan sendiri (pen gantin laki-laki menunggu di kamar), kemudian dilanjut kan dengan pengantin laki-la ki keluar dari kamar, pengan tin perempuan di bawa masuk ke kamar pengantin.
[18.51, 12/9/2022] Mcle: Upacara Bersanding atau acara resepsi yang dilaksanakan di rumah pengantin perempuan den gan duduk diatas Putra Ratna (Gerai Pelaminan) yang bertingkat sesuai dengan tingkat derajatnya. Pengantin perempuan duduk berselimpuh dengan berpakaian:
●Kebaya Laboh atau baju Kurung Teluk Belanga terbuat dari kain tenunan, satu stel dengan kain bercorak dan berwarna sama.
●Dikepala nya dipakaikan perkakas An dam. Dikening disebut Ramin, Sanggul Lipat Pandan atau ●Sanggul Lintang serta dihiasi dengan sunting genta-genta atau bunga goyang bermotif Bunga Cina.
●Leher menggunakan kalung emas dan rantai papapan atau dukoh bertingkat tiga, lima, tujuh.
●Lengan kanan dan kiri diberi gelang berkepala burung merak pertanda memberi kesuburan dan kemakmuran pengantin perempuan.
●Pada bahu kiri diberi tampan-tampan atau sebai yang bertekat benang emas dan ke lingkan.
●Jari kelingking dan ibu jari diberi cangai yang terbuat dari emas atau perak. (saat ini lebih sering menggunakan ini inai/henna)
●Kaki kanan dan kiri diberi gelang kaki emas atau perak berkepa la kuntum bunga cempaka
●Dipinggan diikat dengan pending emas berfungsi menambah kerampingan badan pengantin.
●Alas kaki menggunakan kasut atau selepa yang terbuat dari beludru yang dihiasi dengan kelingkan dan maik.
Komentar
Posting Komentar